Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis Unimus

Semarang, 2 Juni 2026 – Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBI) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan akademik dan memperkuat jejaring internasional melalui penyelenggaraan kegiatan International Visiting Professor yang menghadirkan akademisi internasional dari Australia. Kegiatan yang mengusung tema “Business Sustainability and Community Empowerment” ini berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026 di Aula GKB 2 Lantai 8 UNIMUS dan diikuti oleh mahasiswa FEHBI UNIMUS dengan antusiasme yang tinggi.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Wakil Rektor IV UNIMUS, Dekan FEHBI, para Ketua Program Studi, Sekretaris Program Studi, serta seluruh dosen di lingkungan FEHBI UNIMUS. Kehadiran narasumber internasional ini menjadi momentum penting dalam memperkuat atmosfer akademik yang berorientasi global sekaligus memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara keberlanjutan bisnis, pembangunan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV UNIMUS, Muhammad Yusuf, S.STPi, M.Si, Ph.D menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kesediaan Prof. Minako Sakai untuk hadir dan berbagi ilmu di lingkungan UNIMUS, khususnya di FEHBI. Beliau menjelaskan bahwa Prof. Minako Sakai merupakan akademisi yang memiliki keahlian dan pengalaman panjang di bidang antropologi serta kajian pembangunan masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

“Merupakan suatu kehormatan bagi UNIMUS untuk dapat menghadirkan profesor internasional yang memiliki rekam jejak penelitian yang sangat kuat mengenai masyarakat Indonesia. Kami berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan mahasiswa dan dosen mengenai pentingnya kolaborasi antara dunia akademik, bisnis, dan masyarakat dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Memasuki sesi utama, moderator Dr. Kartiko Adi Wibowo, M.M. membuka diskusi ilmiah dan memperkenalkan narasumber kepada seluruh peserta. Dalam paparannya, Prof. Minako Sakai mengawali materi dengan menceritakan pengalaman pertamanya datang ke Indonesia pada era 1980-an. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Indonesia yang dinilainya mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai sektor, baik ekonomi, pendidikan, maupun pembangunan sosial.

“Ketika saya pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1980-an, situasinya sangat berbeda dengan sekarang. Saat ini Indonesia telah berkembang menjadi negara yang dinamis dengan berbagai inovasi dan potensi luar biasa,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya yang bertajuk Business Sustainability and Community Empowerment, Prof. Minako Sakai menekankan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan finansial semata, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan dampak sosial yang positif bagi masyarakat. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa keberlanjutan usaha sangat erat kaitannya dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

Beliau menjelaskan pentingnya pertanyaan “Why does this matter for business students?”, yaitu mengapa isu pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan menjadi sangat relevan bagi mahasiswa bisnis saat ini. Dunia kerja dan dunia usaha terus berubah dengan cepat, sehingga generasi muda dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, dan inovasi dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Usaha tidak mungkin hanya menggunakan satu pola yang sama sepanjang waktu. Pekerjaan yang ada saat ini mungkin akan berbeda beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi dan berinovasi menjadi kunci utama dalam mempertahankan keberlanjutan bisnis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Minako Sakai membagikan hasil penelitian yang dilakukannya terkait pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Dalam riset tersebut, ia menemukan bahwa organisasi-organisasi Islam memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan UMKM serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi.

Beliau menjelaskan konsep Adaptive Social Infrastructure, yaitu infrastruktur sosial yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dan tantangan masyarakat. Konsep ini mencakup peran organisasi perantara, jaringan sosial, kepercayaan masyarakat, koordinasi digital dan kelembagaan, serta kemampuan beradaptasi terhadap berbagai permasalahan sosial yang terus berkembang.

Menurutnya, kekuatan masyarakat tidak hanya terletak pada modal ekonomi, tetapi juga pada modal sosial yang terbentuk melalui jaringan, kepercayaan, dan kolaborasi antar berbagai pihak. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai budaya lokal dan ajaran Islam memiliki kontribusi besar dalam menciptakan model pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Prof. Minako Sakai juga mengangkat tema “Islam, Culture and Development in Indonesia and Southeast Asia”, yang menyoroti bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan dalam pembangunan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa berbagai organisasi Islam di Indonesia telah berhasil menciptakan model pemberdayaan yang efektif dengan menggabungkan kebutuhan keagamaan masyarakat dan pengembangan ekonomi produktif.

Salah satu contoh yang dipaparkan adalah program pemberdayaan yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa melalui integrasi kebutuhan keagamaan umat Islam dengan program peternakan dan pengembangan usaha produktif. Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan ekonomi jangka pendek, tetapi juga mengembangkan rantai nilai (value chain development) yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.

“Pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat mengembangkan kapasitasnya sendiri sehingga mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” terang Prof. Minako Sakai.
Suasana diskusi berlangsung sangat interaktif.

Mahasiswa FEHBI UNIMUS tampak antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan. Berbagai pertanyaan kritis diajukan terkait strategi keberlanjutan bisnis, peran organisasi sosial dalam pengembangan ekonomi, hingga peluang inovasi bisnis berbasis pemberdayaan masyarakat di era digital.

Melalui sesi tanya jawab yang dinamis, peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan akademik bertaraf internasional, tetapi juga menginspirasi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan inovasi bisnis yang berdampak bagi masyarakat.

Dengan terselenggaranya International Visiting Professor ini, FEHBI UNIMUS semakin mempertegas komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas global, memperluas kolaborasi internasional, serta mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dunia yang semakin kompleks.